Beramal dalam Karya-Tupperware: “GLOBALISASI TAK KENAL REBOISASI”


Oleh: Aldo

Siswa kelas VIII (delapan) SMART Ekselensia Indonesia, asal Medan

Memasuki abad ke-21 ini, dunia seakan memasuki usia tuanya. Berbagai perubahan banyak terjadi. Perubahan gaya hidup masyarakat, perubahan bentuk bumi hingga perubahan pemikiran masyarakat masa kini dalam menjaga kelestarian lingkungan dunia. Berbagai kebutuhan masyarakat masa kini juga semakin meningkat. Seakan-akan segala kebutuhan dirasa kurang. Padahal, segala sesuatu sudah diatur dan terjaga dengan sangat efisien. Begitu juga kebutuhan mengelola hasil alam. Hasil alam dikelola seakan-akan hanya mengobok-obok air di dalam wadah. Hasil alam dikelola tak kenal batas. Hasil alam diambil tanpa adanya gerakan reboisasi!

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), globalisasi mengartikan meningkatnya gaya hidup masyarakat, kemajuan teknologi, serta peningkatan dan kemajuan lainnya yang membawa perubahan bagi kehidupan sebelumnya. Sedangkan reboisasi adalah penanaman kembali pepohonan yang ditebang dengan sistem tebang pilih atau mengelola pohon yang sudah berumur kemudian menanam kembali bibit pohon yang baru.

Dari pengertian di atas, istilah “globalisasi tak kenal reboisasi” dapat diartikan di mana segala aspek kehidupan masyarakat di masa globalisasi seakan lupa dengan yang namanya reboisasi.

Dewasa ini gaya hidup masyarakat globalisasi sudah banyak berubah dari yang sebelumnya. Gaya hidup masyarakat di masa globalisasi cenderung mewah dengan ingin selalu memiliki apa yang diinginkan dan diperlukan, ingin selalu menjadi yang terbaik, serta ingin selalu mencoba hal-hal baru.

Kemajuan teknologi di masa globalisasi juga tak kalah meningkat kualitasnya dari gaya hidup masyarakatnya. Seakan-akan hidup hanya tinggal menekan tombol atau hanya dengan isyarat belaka. Dengan begitu, secara otomatis kata reboisasi mulai asing apabila terdengar di telinga, penerapan reboisasi dirasa tidak perlu lagi seiring kemajuan teknologi serta gaya hidup masyarakat globalisasi masa kini.

Untuk apa reboisasi? Kayak gak ada kerjaan aja? Gak penting tau!”

Begitulah mayoritas ucapan masyarakat di masa globalissai saat ini yang selalu di selimuti oleh kemajuan teknologi.

Hutan-hutan yang sebelumnya masih dalam keadaan sehat, sedikit demi sedikit mulai sakit dengan tampaknya ruang-ruang hampa tak berpenghuni di berbagai wilayah di Indonesia maupun di dunia.

Indonesia yang dijuluki sebagai paru-parunya dunia selain Brazil mulai menurun kualitasnya. Paru-paru dunia saat ini sudah terjangkit penyakit TBC hutan (tuberculosis). Secara otomatis, pernapasan manusia juga ikut terganggu dengan perubahan ini. Oksigen yang dahulu melimpah ruah, namun sekarang yang kita hirup hanyalah sisa-sisa dari gemerlap globalisasi. Pernapasan manusia kini layaknya jalanan yang dipenuhi dengan kemacetan.

Yang jelas semua itu diakibatkan oleh otak manusia globalisasi yang tidak lagi menganggap reboisasi itu penting. Namun, tidak semua manusia yang hidup di zaman yang yang penuh kerlap-kerlip ini menganggap bahwa reboisasi itu tidak penting. Masih ada yang dengan berpikir jernih sesuai hati nurani serta penerapan yang baik dalam melakukan reboisasi terhadap hutan-hutan di Indonesia maupun di dunia.

Dari berbagai sumber yang penulis dapatkan, bahwa perbandingan antara masyarakat globalisasi yang kontra-reboisasi dengan yang pro-reboisasi dapat diperkirakan dengan perbandingan sederhana, yaitu 75 : 25, di mana 75 % kontra-reboisasi berbanding 25 % pro-reboisasi. Coba bayangkan betapa mirisnya dunia ini.

Sebagai para penerus bangsa yang memiliki wawasan yang luas serta pengetahuan yang cukup mengenai alam ini, maka marilah kita mencoba untuk membenahi tata kehidupan dunia ini yang semakin lama semakin memerah saja. Janganlah kita terbawa oleh arus kehidupan globalisasi yang tidak baik. Tapi cobalah untuk memperbaiki apa yang perlu diperbaiki dan menambah kualitas yang sudah baik sekarang, terutama dalam menjaga kelestarian lingkungan demi menciptakan kehidupan yang aman, sehat serta penuh dengan barokah ilahi.

Dan jangan lupakan reboisasi terhadap hutan-hutan yang membutuhkannya dan mencoba untuk menghijaukan alam ini meskipun kita tengah berada dalam masa dimana segala sesuatunya penuh dengan pilihan. Pilihlah yang terbaik dengan menjalankan kembali gerakan reboisasi yang sekarang sedang mengalami kemunduran.

Ambil positifnya dari globalisasi sekarang dan ubah yang negatifnya menjadi positif dengan segala daya dan upaya yang kita miliki. Kembalikan Indonesia yang dlu dengan kembali melakukan reboisasi terhadap hutan-hutan di Indonesia maupun di dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: