Daun Ilmu Itu Takkan Layu


Belumlah saya menyempatkan diri untuk berbagi cerita tentang hari-hari saya bersama guru-guru hebat itu, ternyata pada akhirnya, hari ini saya merasa ‘harus’ berbagi.

Berita kemarin membuat saya teringat akan sosok yang belum dua bulan ini saya jumpai di pulau paling selatan negeri kita. Berita itu membuat sejenak saya terdiam.

Wisyal, pendamping sekolah Makmal Pendidikan Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa (LPI – DD) di SD Negeri 1 Papela Kabupaten Rote Ndao, menyampaikan kabar, “Bu Nim, guru yang sedang hamil besar waktu itu, anaknya meninggal”.

***

Pelatihan Itu Tidak-lah Terlalu Berguna

Bu Nim (Ibu Nirmala Aitio) yang dimaksud Wisyal – rekan saya itu – adalah salah satu guru di sekolah pendampingan Makmal Pendidikan LPI – DD, sekolah yang di pulau paling selatan Indonesia, Pulau Rote. Beliau adalah salah satu dari sekian guru yang menjadi peserta Pelatihan Tahap IV pendampingan Makmal. Pelatihan PAIKEM, Pembelajaran Inovatif Efektif dan Menyenangkan, pelatihan yang menurut saya tidak-lah terlalu berguna.

Yap, tidak terlalu berguna..

Namun, saya belum akan berbagi tentang semua ketidakbergunaan itu. Semua kehebatan dan kreativitas yang telah guru-guru hebat itu miliki. Yang hanya perlu terus diasah dan disiram setiap hari.

Saat ini saya sedang teringat pada  salah satu guru peserta favorit saya di sana. (nda’ apa ya..)

Ketika tiba waktunya untuk mempresentasikan rencana pembelajaran berbasis PAIKEM, saya terkesan pada salah satu peserta, guru muda berkerudung biru yang sedang mempersiapkan diri untuk menjadi seorang Ibu. Benjolan itu sudah begitu besar. Kandungannya sudah memasuki masa di mana Ibu-ibu yang lain mungkin sudah mengistirahatkan diri, calon Ibu lain mungkin sedang disibukkan menahan rasa pegal di belakang punggungnya.

Namun, calon ibu yang satu ini memilih untuk hadir dan berjuang untuk belajar. Belajar hal yang mungkin mendengar namanya membuatnya sigap. Pagi itu beliau membawa beberapa helai daun. Namun daun itu bukan sembarang daun. Daun-daun itu tidaklah halus, lembut atau pun hidup. Daun itu memiliki tulang yang menonjol. Tulang yang membuat saya bertanya, terbuat dari apakah daun kekar nan keren itu.

Daun-daun itu membuat peserta micro teaching Selasa pagi itu lebih semangat dan lebih mudah untuk memahami perbedaan antara tulang daun yang menyirip seperti daun pohon mangga atau pun menjari seperti daun pepaya.

Sebelum berkutat dengan daun-daun itu kami (saya dan peserta pelatihan lain) dibawa  ke  luar kelas dan mencari bentuk-bentuk daun di sekitar sekolah. Salah satu pohon yang saya ingat diperkenalkan oleh Bu Is, Kepala Sekolah SDN 1 Papela, yaitu pohon lem (Buahnya benar-benar bisa difungsikan sebagai perekat alias lem). Wow..

***

Di saat istirahat saya -yang penasaran- mendekati beliau dan menanyakan kisah Sang Daun. Hal nomor dua yang membuat saya terkagum setelah kesediaan beliau (dan satu guru lain yang juga sedang hamil besar) untuk duduk di bangku panjang tak memiliki sandaran sejak padi sampai waktu Ashar tiba.

Akhirnya saya mendapatkan jawabannya, jawaban yang kembali membuat saya terpana akan kesungguhan dan pengorbanan beliau di tengah kondisi fisiknya. Beliau menjawab pertanyaan saya, “buat ini dari karton kardus bekas, di cat dengan sisa cat yang ada di rumah.” Ketika saya menanyakan pertanyaan yang kedua, beliau menjawab, “tulang daun itu dibuat dari kertas alumunium bekas kemasan yang dilinting kemudian dibentuk dan ditempel sesuai bentuk tulang daun yang diinginkan”.

“Sampai jam berapa mengerjakannya?”, tanya saya untuk ke sekian kalinya. “Sampai jam 12 malam”.

Subhanallah..

Entah mengapa, tiba-tiba penyesalan singgah. Rasanya setengah hati ini menyesal telah memberi ‘PR’ -untuk membuat rencana pembelajaran berbasis PAIKEM- itu, namun setengah hati saya merasa bangga memiliki kesempatan untuk berjumpa dan belajar bersama orang-orang hebat seperti Ibu Nim dan rekan-rekan guru lainnya. Bu Nim -juga Mama Nona (Bu Umar), Mama Samiun, Pak Joni, Ibu Khodijah, Ibu Is, Pak Mada, Ibu Sri, dan semua guru di sana- satu cerita penuh makna dalam hidup kecil saya.

***

Semoga buah hatimu menjadi pembuka pintu surga bagimu wahai Ibu.. Ibu Guru dari Selatan negeri ini, negeri Indonesia ‘tercinta’.

Dan semoga Duka hatimu tak membuat semangatmu layu. Semoga semangat juang itu tetap kukuh sekekar tulang daun buatan hatimu..

Dana Zakat itu takkan sia di tanganmu. Teruslah berjuang Saudara Saudariku, sungguh perjuanganmu adalah inspirasi bagiku dan tentu guru Indonesia!

aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: