Pindahan: “SEKOLAHKU, PERJUANGANKU, KEBAHAGIAAN MEREKA”


Ini tulisan awal sayaketemu sumber blognya saya ingin berbagi lagi ni.. Di posting ulang ya.. (ada sedikit revisi)

(Satu pagi Hari Pendidikan Nasional Mei 2009)
++

Sepuluh juta rupiah.

Sebuah angka yang fantastik. Mungkin tak pernah terbayang sebelumnya di benak anak-anak ini. Namun itulah angka yang mereka dapatkan. Mereka adalah para pejuang harapan, penjelajah hari penuh peluh dan perjuangan, demi kebahagiaan orang tua yang mereka kasihi, agama, dan bangsa yang – ingin – mereka banggakan.

5 Maret 2009 semua siswa SMART Ekselensia Indonesia (SMART EI) menjalani aktivitas seperti biasa. Bangun pagi saat matahari belum tersenyum, memanjatkan syukur di rumah Allah nan syahdu, membekali jasmani dengan sepiring nasi, apel pagi, serta memenuhi hati dan isi kepala mereka dengan hal-hal baru. Kamis itu merupakan hari yang biasa saja, hari berseragam putih biru atau putih abu-abu untuk yang sudah menengah atas.

Namun tidak sama, bukan hari biasa bagi Fajar, Cholis, Riza, Dony, Faisal, Indra, dan Makmun, ketujuh personal ‘The Amburadul’ – salah satu tim Trashic (Trash Music – menggunakan alat musik dari barang-barang bekas) SMART EI, yang seluruh personilnya merupakan angkatan keempat – yang masuk ke sekolah ini saat Ibu Kota negara sedang mempersiapkan Pemilihan Langsung pertama untuk menentukan orang nomer satu yang akan membenahi kota mereka. Hari itu mereka berangkat dari gedung biru – sederhana – tempat mereka menjalankan sunnah Rasul mulia, menuju gedung biru lainnya – nan megah menjulang – di belahan Selatan Jakarta. Itulah gedung TransTV, salah satu stasiun TV swasta yang akan menjadikan mereka salah satu bintang dalam acara pengeksplorasi talenta, dikomandani oleh Ari Untung. “GONG SHOW”, nama acaranya.

Tak disangka, tak dinyana, hasil penjurian dari tiga pekerja seni (Olga Syaputra, Adul, dan Komeng) menghasilkan sebuah nama tim yang tak dikenal, ‘The Amburadul’. Nama itu menggema ke penjuru penjuru negeri – sebelas hari setelah pengambilan gambar – melalui bantuan alat canggih besar yang menggantung gagah di angkasa. Anak-anak ini berharap kabar membanggakan dan membahagiakan itu sampai ke kediaman orang-orang yang mengasihi mereka di Tangerang (Banten), Bandung (Jawa Barat), Bantul (Yogyakarta), Sragen (Jawa Tengah), Palembang (Sumatera Selatan), Karangasem (Bali), dan Waingapu (Nusa Tenggara Timur).

Sekolahku, perjuanganku, kebahagiaan mereka

Ini mungkin kata-kata yang menjadi kunci membuka hati untuk mau ‘berputar’, ‘berguling’, atau bahkan ‘bersalto’ dari tanah kelahiran menuju tanah yang belum pernah dicium baunya, belum diketahui sejuk ataukah panas, atau bahkan belum diketahui subur ataukah kering kerontang.

Langkah perjalanan menuju dunia baru yang ditunggu memang tak semudah dulu. Tak semudah ketika ibu membuatkan sarapan di pagi hari, menyiapkan seragam, mengantar kepergian, menyambut di depan pintu setiap pulang sekolah, dan menemani di setiap gelap malam. Tak semudah di kala ayah mengangkat tinggi, menemani belajar mengendarai sepeda, dan mengusap kepala ketika terjatuh.

Mungkin itulah penggalan suara hati siswa-siswa kami, siswa SMART EKSELENSIA INDONESIA yang sebagiannya berasal dari belahan waktu yang berbeda.

Pendidikan berkualitas menjanjikan?

Janji yang dinanti-nanti hasilnya di kemudian hari. Di saat anak-anak mereka kembali ke pangkuan, di saat kepala anak-anak itu tak lagi lebih rendah dari cuping hidung ibunya.

Setiap ibu tidaklah tahu akan jadi apakah anaknya kelak. Namun setiap ibu tahu bahwa dirinya memiliki secercah harapan dengan kelahiran anaknya di muka bumi, dari sebuah dinding yang kokoh yang berada di rongga perutnya.

Latar belakang kehidupan keluarga yang kurang menjanjikan membuat anak-anak petualang ini mencari janji yang baru. Janji dalam hati mereka sendiri bahwa mereka akan menggapai dan meraih hidup yang lebih baik, lebih indah, yang akan dipersembahkan untuk orang-tua, kakak, adik, dan orang-orang yang menyayangi mereka.

Konsep pendidikan seperti apakah yang diharapkan dapat memenuhi janji hati ini?

Menyiapkan generasi pemimpin memang tak seperti membuat telur mata sapi. Perlu banyak hal yang harus dipikirkan, dirancang, dikerjakan, serta dicari tahu sejauh mana perkembangannya untuk kemudian diputuskan langkah terbaik selanjutnya.

Bagaimana dengan SMART EI, sekolah dengan kekhasan ini beberapa bulan lagi menjelang ‘menetaskan telur’ yang telah hampir lima tahun ‘dierami’. Bagaimanakah hasilnya? Hal yang mendegupkan jantung ‘pengeramnya’ lebih kencang, bahkan mungkin jauh lebih kencang dari yang dirasakan di hari penyambutan angkatan pertama ini memasuki halaman sekolah binaan Dompet Dhuafa Republika ini – begitu nama lembaga zakat ini kala itu.

Dua bulan, atau tiga bulan lagi, kelihatannya bukan jumlah hari yang menjadi permasalahan. Hal yang menjadi perhatian terbesar adalah akankah mereka mampu bersinar, tetap bertahan menjadi pembelajar dan muslim sejati, serta menjelma menjadi ‘ayam jago’ yang mampu tegak berdiri menghadapi dunia di hadapan, dan memberi arti lebih bagi orang-orang/masyarakat di sekitarnya. Hal yang menjadi harapan dan doa yang menggema ke langit tinggi dari atap-atap rumah mungil di berbagai penjuru Indonesia.

Bekalan berupa pendidikan akademik, pendidikan ruhani, akankah cukup bagi mereka kelak? Ataukah mereka memerlukan sedikit tambahan asupan sebagai penjaga hari. Penjaga diri dan keluarga mereka. Keterampilan hidup telah mereka pelajari, keterampilan intrapersonal maupun interpesonal.

Bagaimana dengan keterampilan kerja? Sudahkah mereka memiliki bekalan? Ya, secara teori pastinya pernah mereka pelajari atau mereka ketahui dari guru atau buku bacaan yang tersedia di perpustakaan indah tercinta. Perlukah anak-anak ini memiliki pengetahuan keterampilan kerja tidak hanya secara kognitif namun dilengkapi, ditunjang oleh pengalaman psikomotorik yang dapat mereka aplikasikan di dunia ‘nyata’ nantinya.

Menjahit tangan, mengesol sepatu, mencukur rambut, menggunakan alat-alat pertukangan, alhamdulillah telah mereka pelajari dan praktikkan. Apakah sudah cukup, ataukah kita perlu menambahkan lebih serius lagi? Jawabannya kami nantikan dari para pemegang kebijakan dan tentunya bantuan dari para donatur/sponsor yang bersedia menjadi investor bagi kemajuan bangsa ini melalui manusia-manusia pembelajar, pejuang bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa yang kita selalu – ingin – mereka cintai.

***

Rabu, 15 April 2009 – dalam bilangan enam menit di siang hari -, Makmun, Riza, Dony, Fajar, Faisal, Indra, dan Cholis kembali berharap dapat membuat orang-orang yang mereka cintai bahagia dan bangga demi melihat buah hati mereka tampil di sebuah acara edutainmen – dengan tokoh lucu nan melegenda – di Trans7, Laptop si Unyil. Juga dengan perantara benda besar tergantung tinggi di ruang megah tak bersekat menuju Tangerang (Banten), Bandung (Jawa Barat), Bantul (Yogyakarta), Sragen (Jawa Tengah), Palembang (Sumatera Selatan), Karangasem (Bali), dan Waingapu (Nusa Tenggara Timur).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s