Penjual JUGA -Boleh Jadi- RAJA (Memaknai kata ‘TOLERANSI’)


“Pembeli adalah raja.”


Rasanya tidaklah adil jika kita selaku pembeli selalu merasa harus dianggap sebagai raja. Penjual harus memahami pembeli. Pelayan harus datang segera mengantar menu dan makanan serta minuman. Menu yang tidak sesuai akan segera menjadi complain yang menyebalkan (atau mungkin sekaligus ‘menyenangkan’?).
Menyajikan menu membawakan makanan memang merupakan tugas pemilik restoran dan karyawannya. Membersihkan meja mungkin memang keharusan yang tak bisa dianggap sepele. Namun, pernahkah kita sedikit berpikir untuk memberikan mereka sedikit keringanan? Pernahkah kita sejenak memikirkan untuk meringankan sedikit kerja mereka?
Meja yang kotor karena ulah kita atau keluarga (anak, adik, dll) bolehlah sekiranya kita anggap sebagai bagian dari tanggung jawab kita. Bersihkan dan temukan senyum penuh terima kasih di wajah pemilik warung atau pelayan restoran tersebut.
Bawakanlah mangkuk bakso, piring siomay, gelas jus-mu kepada Bapak/Abang/Mas penjualnya. Bayangkan apa yang terjadi jika kita melakukannya.
Rasanya lelah juga kalau setiap waktu memikirkan harus bertoleransi pada semua orang. Benarkah begitu? Rasanya kepuasan dan ketenangan batin-lah yang akan datang memenuhi hari-hari kita.
Toleransi merupakan kata ‘ajaib’pembuka hati penerang cahaya dalam membuka ruang pertemanan dan persaudaraan. Agama Islam, Budha, Hindu, Kristen, Budha dan agama lainnya tentu takkan membiarkan umatnya hidup tanpa mengenal toleransi.
Berbagai kata yang bertaut dengan kata toleransi. Kata tersebut bisa menjadi damai, bersatu dalam perbedaan dan kata favorit saya, memahami.
Memahami perbedaan fisik (warna kulit, besar kepala, jenis rambut, dll) terlihat lebih mudah dilakukan, karena unsur tersebut kasat mata, Bagaimana dengan unsur yang tidak terlihat? Pendapat, perasaan, dan opini, bahkan cita-cita.
Menjadi seorang guru hendaklah ia bertoleransi. Menjadi seorang guru tentunya dituntut untuk memiliki stok toleransi yang melimpah sehingga pada saatnya ia dapat salurkan energi toleransi yang ada pada dirinya.
Bagaimana dengan siswanya? Belajar sehari-hari mulai dari mendahulukan teman ketika berebut kursi yang strategis, memilih untuk merendahkan suara ketika membaca Al-Qur’an di saat rekan/temannya sedang/akan sholat, dan lain-lain.
Sesekali kita memiliki kelebihan uang di saku, bolehlah kita melebihkannya untuk sang supir angkot. Bagi saya itu merupakan apresiasi tambahan. Maukah mencobanya?
Ketika membawa siswa ke pasar, kita dapat memberikan contoh tolerasi yang tak terlihat berikutnya. Menawar memang sudah lazim di pasar tradisional. Seringkali kita sebagai pembeli ingin mendapat harga yang sangat rendah. Namun tak tergerakkah hati kita untuk memberi sedikit kelebihan rizki dengan melunakkan harga tawar kita?

Seulas senyum mungkin akan terkembang pada kita..

Sejumput tambahan bukan tak mungkin beliau berikan dengan senang hati..🙂
Selamat Mencoba Teman.. :) 

 

https://sosialberkarya.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: